Tips Menabung Tanpa Riba

Saat ini, bank (konservatif atau syariah) telah jadi salah satu wadah warga untuk menabung (buka tabungan). Kecuali untuk menabung, bank memberi penawaran-penawaran menarik yang lain seperti KPR rumah, DPLK serta Dana Talangan Haji serta ada banyak lagi. Karena itu tidaklah heran jika bank telah jadi sisi penting dalam bagian perekonomian di warga kita.

Motivasi warga menabung di bank ialah ingin memperoleh keuntungan. Beberapa orang berlomba menabung dibank yang bunganya besar dengan keinginan nanti memperoleh keuntungan yang besar. Contoh Bambang menabung pada bank B sekitar Rp 400.000,-. Jika bunga bank 3% per tahun karena itu jumlah uang bambang sesudah setahun akan untuk jadi berikut: Uang bambang = Rp 400.000,- + ( 3% x Rp 400.000,-) = Rp 400.000,- + Rp 12.000,- = Rp 412.000,-

Atau Uang bambang = ( 100% + 3%) x Rp 400.000,- = Rp 412.000,

Silahkan kita evaluasi apakah itu sebetulnya bunga bank, hukum bunga bank sampai hukum menabung di bank konservatif…

Bunga Bank

Bunga (Interest) yakni: imbalan yang dibayar oleh peminjam atas dana yang diterimanya, bunga dipastikan dalam % (%).

Bank konservatif (bank yang tidak islami) sejumlah besar upayanya tergantung pada bunga. Dimana bank kumpulkan modal dari dana warga berbentuk tabungan, lalu uang yang terhimpun dari dana warga itu dipinjami berbentuk modal pada satu faksi. Bank memberi bunga pada beberapa penabung serta menarik bungan dari peminjam. Bunga yang ditarik dari peminjam jauh semakin besar dibanding bunga yang dikasih ke pemilik rekening tabungan. Beda dari dua bunga di antara peminjam serta penabung adalah keuntungan yang didapat bank.

Hukum Bunga Bank

Bunga yang ditarik bank dari faksi yang diberi utang modal atau yang diberi bank pada nasabah pemilik rekening tabungan hukumnya haram serta termasuk juga riba. Sebab inti bunga ialah utang yang dibayar berlebihan. Bank memberi utang pada pebisnis berbentuk modal, utang itu harus dikembalikan dalam jumlah yang sama ditambah bunga yang dipastikan dalam %, atau denda yang ditarik bank dari faksi peminjam bila telat memayar dalam tempo yang sudah dipastikan. Ini pasti sama juga dengan riba golongan jahiliyah.

Menabung di bank sekaligus juga diberi nama simpanan, namun dalam pandangan fikih akadnya ialah utang. Sebab utang (qardh) dalam terminologi fikih bermakna menyerahkan uang pada seorang untuk dipergunakannya serta dikembalikan berbentuk uang sejumlah utang. Pemahaman qardh ini sama juga dengan tabungan, dimana uang tabungan yang disimpan di bank dipakai oleh bank, selanjutnya bank mengembalikannya kapan saja diperlukan oleh penabung berbentuk penarikan uang tabungan.

Akad ini tidak bisa disebutkan wadi’ah (simpanan), sebab beberapa ulama menjelaskan sama seperti yang dinukil oleh Ibnu Utsaimin -rahimahullah-, “Beberapa pakar fiqh menerangkan jika jika orang yang menitipkan (uang) memberi izin pada yang dititip untuk memakainya karena itu akad wadi’ah menjadi akad qardh”.

Jika inti menabung di bank ialah akad utang (qardh) karena itu utang jangan dikembalikan berlebihan, jika dikembalikan berlebihan berbentuk bunga karena itu bunga ini diberi nama riba. Aturan fikih mengatakan,

Tiap utang yang memberi keuntungan buat pemberi utang ialah riba.

Hukum jika bunga bank sama juga dengan riba adalah ketetapan semua instansi fatwa baik yang berskala internasional atau nasional, hingga dapat disebutkan Ijma’.

Hukum Menabung di Bank Konservatif

Sesudah ketahui jika transaksi simpan-pinjam di bank konservatif ialah transaksi riba, bagaimana hukumnya menabung di bank konservatif?

Hukum menabung di bank konservatif diharamkan, sebab transaksi ini ialah riba. Serta riba sudah diharamkan Allah serta rasulNya. Jabir radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan jika, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengutuk orang yang makan harta riba, yang memberi riba, penulis transaksi riba serta 2 orang saksi akad riba. Mereka semua sama”. (HR. Muslim)

Bila seorang benar-benar perlu buka rekening di bank konservatif sebab upahnya ditransfer oleh perusahaan ke rekening bank konservatif karena itu hukumnya dikasih kemudahan dengan ketentuan, sesudah uang masuk dalam rekening itu selekasnya menariknya apabila diberi bunga oleh bank, bunga itu ialah riba yang harus dia lepaskan dari hartanya dengan menyalurkannya untuk kebutuhan sosial.

Seperti difatwakan oleh instansi fatwa kerajaan Arab Saudi No. 16501 saat diberi pertanyaan hukum mengenai akseptasi upah beberapa pegawai lewat rekening di bank ribawi, yang mengeluarkan bunyi, “Upah yang diterima lewat rekening di bank (riba) bisa supaya anda memperoleh gaji kerja hasil dengan ketentuan jangan dibiarkan di bank sesudah masuk dalam rekening supaya tidak dipakai oleh bank untuk investasi riba”.

Panduan Menabung Bebas Riba

Sesudah ketahui jika hukum menabung di bank konservatif ialah haram, lalu bagaiamana kita dapat menabung? Pertanyaan berikut yang pernah terbersit dibenak saya pribadi saat telah jadi pegawai. Saya bingung harus menabung dimana sebab sejumlah besar bank di Indonesia ialah bank ribawi. Buat sejumlah besar orang memandang sepele permasalahan ini, tetapi tidak dengan saya. Saya ingin harta yang saya bisa serta inshaallah nanti akan menjaga keluarga saya ialah harta yang halal serta bebas dari riba.

Beberapa waktu lalu ada salah satunya bank syariah yang tawarkan saya untuk buka tabungan. Ada dua akad yang ditawarkan dari bank syariah ini salah satunya :

Mudharabah : (Saldo minimum 100rb, dikenai ongkos administrasi, ada buat hasil yang besarnya tidak dapat dipastikan bergantung keuntungan perusahaan). Dari beberapa sarana yang ditawarkan telah jelas disana ada buat hasil yang besarnya tidak pas. Memang hukum awal mudharabah ialah mubah (bisa) tetapi pada masalah di atas hakekatnya telah tidak sama dari pemahaman mudharabah. Menurut pemahaman awal mudharabah bila ada buat hasil karena itu harus ada buat rugi, berarti entahlah itu untung atau rugi dijamin bersama-sama. Bila cuma ada buat hasil itu sama juga dengan bunga yang besarnya tidak masih.

Wadi’ah : (Saldo minimum 100rb, tidak dikenai ongkos administrasi, tidak ada bunga atau buat hasil). Nah sesudah saya dalami, pada akhirnya saya cukup percaya untuk buka tabungan wadi’ah sebab rincian-rinciannya memvisualisasikan jika itu betul-betul akad wadi’ah. Besarnya uang yang kita tabung tidak menyusut atau makin bertambah. Wallahualam bishawab.